Perwira TNI AU Diasah di Mabesau: Ketua Umum DePA-RI Suntikkan Strategi Negosiasi dan Kepemimpinan



JAKARTA - Upaya memperkuat kapasitas intelektual dan kepemimpinan perwira TNI Angkatan Udara terus digencarkan. 




Kali ini, Markas Besar TNI AU menghadirkan Ketua Umum Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia, Tahir Musa Luthfi Yazid, sebagai pembicara utama dalam forum peningkatan kapasitas perwira, Kamis (23/04/2026).

Tak sekadar seremoni, forum ini menjadi ruang “pengasahan otak dan nurani” bagi ratusan perwira yang mengikuti secara hybrid dari Sabang hingga Merauke. 

Luthfi tampil lugas, membedah teknik negosiasi, komunikasi strategis, hingga seni mediasi yang dinilai krusial di tengah kompleksitas tugas militer modern.

“Semakin baik komunikasi, semakin besar peluang memengaruhi,” tegas Luthfi.

Menggarisbawahi pentingnya kemampuan persuasi sebagai senjata non-militer yang tak kalah menentukan.

Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa perwira bukan hanya operator alutsista, tetapi “the man behind the gun” yang memikul tanggung jawab moral dan intelektual.

Ketepatan mengambil keputusan, menurutnya, harus berdiri di atas fondasi data akurat, nalar jernih, dan kebijaksanaan, bukan sekadar kekuatan teknologi.

Lebih jauh, Luthfi menyoroti bahaya laten konflik, mulai dari konflik kepentingan, struktural, hingga konflik nilai yang paling kompleks. 

Mengutip pemikiran Christopher W. Moore, ia menegaskan bahwa konflik nilai kerap berakar pada keyakinan, ideologi, hingga adat, sehingga membutuhkan kepekaan dan kecermatan tinggi dalam menanganinya.

“Sering kali konflik muncul bukan karena fakta, tapi karena persepsi yang keliru akibat informasi yang tidak akurat,” ujarnya tajam.

Untuk itu, ia mendorong para perwira meneladani figur-figur tentara intelektual seperti Soedirman, Abdul Haris Nasution, T.B. Simatupang, hingga Try Sutrisno , tokoh yang tak hanya kuat di medan tempur, tetapi juga tajam dalam berpikir dan teguh dalam nilai.

Di tengah era disrupsi hukum dan dominasi algoritma, Luthfi mengingatkan agar perwira tidak terjebak stagnasi. 

“Jangan sampai kalah oleh zaman. Perwira harus adaptif, progresif, dan tetap berpijak pada cita-cita keadilan sosial,” tandasnya.

Diketahui, Luthfi memiliki rekam jejak internasional dalam bidang resolusi sengketa, termasuk kolaborasi dengan National Institute for Dispute Resolution serta pengalaman akademik di Gakushuin University, Jepang.

Kegiatan ini menegaskan satu hal: kekuatan militer modern tak lagi hanya bertumpu pada senjata, tetapi juga pada kecerdasan berpikir, kematangan emosi, dan ketajaman membaca konflik. (Megy)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Ad 1

Ad 2